Membangun Basis Data Keanekaragaman Hayati Skala Lanskap
Tantangan
Ketersediaan data keanekaragaman hayati di Lanskap Mendawak masih terbatas, terutama karena sebagian besar wilayahnya dialokasikan untuk konsesi industri dan terdapat keengganan dari perusahaan untuk melakukan survei keanekaragaman hayati atau mempublikasikan data tersebut. Kurangnya data ini menyulitkan penyusunan dasar ilmiah untuk perencanaan konservasi dan pengelolaan lanskap terpadu, khususnya di koridor hutan yang membutuhkan pemahaman tentang keberadaan mamalia untuk mengidentifikasi habitat penting serta isu-isu yang terkait dengan proyek pemulihan hutan (misalnya konflik manusia-satwa liar akibat perburuan atau pergerakan satwa ke area pertanian).
Solusi
Kami melakukan survei keanekaragaman hayati di seluruh lanskap dan mendorong perusahaan yang mengelola konsesi untuk mempublikasikan data keanekaragaman hayati yang mereka miliki.
Kemajuan
Kami melakukan survei keanekaragaman hayati di kawasan-kawasan yang telah diidentifikasi sebagai titik keanekaragaman hayati di Mendawak, dengan prioritas pada koridor hutan yang sedang dikembangkan di bagian timur Mendawak. Pada tahun 2025, kami memasang 35 kamera jebak di dalam dan sekitar PT Mayawana Persada. Hasilnya mengonfirmasi keberadaan orangutan di seluruh bagian blok hutan seluas 35.623 hektare yang membentang dari selatan hingga timur laut konsesi, serta di bagian timur jauh Mata Pancing, yaitu kawasan Hutan Produksi yang tidak dilindungi di luar konsesi.
Keberadaan orangutan di konsesi tersebut juga dikonfirmasi melalui survei sarang orangutan yang dilakukan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, dengan data yang dianalisis oleh para ahli dari LSM Yayasan Palung. Hasil tersebut menunjukkan bahwa orangutan terdapat di seluruh bagian hutan, dan PT Mayawana Persada mendukung populasi sekitar 124 individu orangutan, menurun dari perkiraan populasi historis sekitar 2.000 individu.
Selain orangutan, spesies lain yang berstatus Kritis, Terancam, dan Rentan yang ditemukan di dalam PT Mayawana Persada meliputi beberapa jenis satwa lainnya:
Hingga April 2026, survei kamera jebak lanjutan sedang dilakukan di Desa Bagan Asam. Kegiatan ini dilengkapi dengan pemasangan perekam bioakustik, yang bertujuan untuk mendeteksi keberadaan satwa liar yang bersuara namun tidak terekam oleh kamera (misalnya owa, yang jarang turun ke tanah dan kurang terwakili dalam survei kamera jebak).


















