April, 2026
Mengembangkan Pertanian Hidroponik di Wilayah Rawan Ekologi
Tantangan
Perubahan penggunaan lahan berskala besar di Mendawak telah meningkatkan erosi air dan banjir. Pencemaran serta penggunaan bahan kimia yang tinggi menurunkan kualitas tanah. Petani menghadapi tantangan berupa hama dan gangguan satwa liar. Produksi komoditas hortikultura pangan pokok menjadi tidak stabil.
Solusi
Pertanian hidroponik menghilangkan kebutuhan akan tanah. Tanaman dibudidayakan dalam larutan air kaya nutrisi yang langsung menyalurkan kebutuhan tanaman ke akar. Sistem hidroponik dapat diterapkan di berbagai lokasi, sehingga memungkinkan pemanfaatan lahan terdegradasi dan mengurangi tekanan pada lahan rentan seperti daerah rawan banjir atau tepi hutan.
Kemajuan
Kami telah memperoleh kesepakatan untuk membangun dua sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT), masing-masing di Sumber Agung dan Bagan Asam. Sistem ini akan dibangun pada triwulan I 2026 dan mengacu pada dua sistem hidroponik yang telah dikembangkan oleh Sangga Bumi di lanskap Bentarum, Kalimantan Barat. Sistem tersebut dikelola oleh masyarakat desa dan secara rutin menghasilkan panen selada, kangkung, pakcoy, dan sawi. Sistem hidroponik di Bagan Asam dan Sumber Agung tidak hanya ditujukan untuk produksi sayuran segar, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan pangan desa dan ketahanan ekonomi lokal. Dengan siklus produksi yang singkat dan panen yang rutin, hidroponik menyediakan sumber pendapatan yang lebih stabil di luar kelapa sawit, yang dapat membantu rumah tangga ketika harga tandan buah segar (TBS) menurun tanpa perlu perluasan lahan.
Selain produksi, sistem ini juga berfungsi sebagai pusat pembelajaran untuk praktik budidaya modern dan manajemen usaha tani profesional, termasuk perencanaan tanam dan pencatatan produksi yang sesuai dengan permintaan pasar. Dikelola secara kolektif, sistem ini juga membuka peluang bagi perempuan dan generasi muda untuk berperan sebagai pelaku ekonomi aktif, sehingga hidroponik menjadi model usaha desa yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.
Hasil awal dari sistem hidroponik di Bentarum menunjukkan potensi ekonomi yang kuat di tingkat desa. Setiap sistem terdiri dari 228 lubang tanam dengan biaya operasional per siklus sekitar Rp205.000 (±USD 12) untuk nutrisi, media tanam, dan benih. Hasil panen rata-rata bervariasi, dengan pakcoy sekitar 0,15 kg per lubang, kangkung 0,07 kg, bayam 0,10 kg, selada 0,08 kg, dan sawi keriting 0,09 kg per lubang.
Untuk mencapai keuntungan yang ditargetkan, produksi hidroponik ke depan akan difokuskan pada pakcoy, sawi keriting, dan selada. Berdasarkan komoditas tersebut, total hasil panen tetap memiliki nilai ekonomi yang menarik. Harga jual yang direncanakan adalah Rp30.000 per kg untuk pakcoy, serta Rp40.000 per kg untuk selada dan sawi keriting. Dengan harga tersebut, sistem ini dapat menghasilkan pendapatan kotor yang tinggi per siklus panen, dengan estimasi keuntungan bersih sekitar Rp815.000 (±USD 48) per siklus, tergantung komposisi tanaman.
Biaya investasi awal untuk instalasi hidroponik dan rumah kaca adalah Rp5.082.000 (±USD 300) dengan masa pakai sekitar dua tahun, setara dengan Rp211.750 per bulan (±USD 12/bulan). Pendekatan investasi bertahap ini membantu memastikan sistem tetap terjangkau dan layak secara finansial untuk diadopsi dan dikelola oleh masyarakat.











