April, 2026
Membangun Model Pengelolaan Terpadu Berbasis Desa
Tantangan
Di sebagian besar desa di Mendawak, penggunaan lahan dan sumber daya alam masih bersifat sektoral. Kegiatan pertanian, perikanan, peternakan, dan penggunaan lahan lainnya dikelola secara terpisah. Hal ini menyebabkan efisiensi penggunaan lahan yang rendah, dengan lahan yang dibagi untuk komoditas individu yang sebenarnya dapat dikembangkan dalam sistem terpadu. Kondisi ini juga membebani petani, yang sering harus menempuh jarak jauh dalam satu hari untuk mengurus berbagai aktivitas ekonomi mereka, padahal kegiatan tersebut dapat diintegrasikan dalam satu area yang sama atau lebih kecil.
Solusi
Membangun sistem pengelolaan terpadu yang menjadi model untuk menunjukkan bagaimana berbagai sektor penggunaan lahan (pertanian, perikanan, peternakan, dan pengelolaan ruang hijau) dapat dikelola dalam satu sistem yang saling mendukung.
Video ini menampilkan pengembangan kawasan terpadu di Desa Sumber Agung, Kabupaten Kubu Raya, yang berfokus pada pertanian, pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat yang dipimpin oleh Sangga Bumi Lestari.
Perkembangan
Di Desa Sumber Agung, kami telah mengembangkan model pengelolaan terpadu pada lahan desa seluas 5,2 hektare. Pusat ini akan menunjukkan bagaimana kegiatan ekonomi desa yang sebelumnya dikelola di lokasi berbeda dapat dikembangkan dalam satu tempat. Pembangunan dimulai pada kuartal IV 2025. Pusat ini mencakup tanaman kelapa, komoditas hortikultura, perikanan, dan peternakan. Selain itu, terdapat pusat pembibitan kelapa Bido, rumah kaca, dan persemaian. Yang penting, pusat ini juga mencakup area rekreasi, karena kebutuhan akan ruang rekreasi serta keinginan agar area kegiatan ekonomi juga menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat sering kali terabaikan dalam diskursus konservasi.
Pusat ini juga akan menjadi model bagaimana berbagai pemangku kepentingan lanskap dapat bekerja sama untuk mendukung pembangunan ekonomi desa. Isu pendanaan inisiatif pembangunan masyarakat menjadi perhatian utama. Di wilayah yang didominasi aktivitas sektor swasta, pelaku sektor swasta tersebut menjadi salah satu sumber pendanaan utama.
Kami telah mempertemukan para pemangku kepentingan penggunaan lahan lokal untuk merundingkan paket dukungan bagi pusat tersebut. Pendanaan akan dialokasikan oleh pemerintah desa, dinas pemerintah daerah, serta dua perusahaan konsesi lokal (PT Gerbang Benua Raya dan PT Daya Tani Kalbar) yang telah berkomitmen mendanai biaya operasional pusat, serta sebuah universitas lokal yang bekerja sama dalam pengembangan kerangka pemantauan.
Pusat ini akan menjadi model yang dapat direplikasi bagi desa-desa lain yang menghadapi tantangan ekologis dan ekonomi serupa.











