April, 2026
Meningkatkan Produktivitas Perkebunan Kelapa
Tantangan
Di desa-desa Sumber Agung dan Kubu, perkebunan kelapa merupakan salah satu kegiatan ekonomi utama. Pohon kelapa dimanfaatkan baik untuk buah maupun untuk produksi gula kelapa. Namun, para petani menghadapi beberapa tantangan. Banyak pohon yang sudah tua (senil) sehingga produksinya rendah, terdapat risiko keselamatan karena harus memanjat pohon yang tinggi dan banyak petani muda tidak tertarik melakukannya, regenerasi kebun terbatas, serta akses pasar yang sulit dengan ketergantungan pada pengepul yang menawarkan harga rendah.
Upaya untuk meningkatkan perencanaan tata guna lahan di kalangan petani kelapa agar terdapat jadwal yang lebih terstruktur untuk peremajaan, penanaman baru, dan pengembangan usaha kelapa belum berjalan dengan baik. Pilihan kelapa genjah (dwarf coconut) yang tingginya 1–2 meter serta menawarkan kondisi kerja yang lebih aman dan inklusif juga belum diadopsi karena kekhawatiran terkait hasil dan kualitas buahnya. Tidak terdapat sumber bibit kelapa lokal lainnya, sehingga pilihan bagi petani kelapa masih terbatas.
Solusi
Kelapa Bido, varietas kelapa dari Maluku yang tumbuh lebih cepat dibandingkan kelapa tradisional (berbunga pada usia 2 tahun dan dapat dipanen pada usia 3 tahun) serta menghasilkan buah berukuran besar dengan kualitas unggul, merupakan alternatif jangka panjang yang layak. Untuk mengatasi keterbatasan pasokan lokal, perlu dibangun pembibitan kelapa yang berkelanjutan, dengan tujuan jangka panjang menjadi pemasok utama bibit kelapa di Mendawak dan kemudian di seluruh Kalimantan Barat. Pemetaan spasial yang lebih kuat dapat membantu meningkatkan perencanaan jadwal penanaman serta mendukung usaha kelapa yang lebih konsisten.
Melalui pendekatan Sangga Farming, kami bekerja sama dengan petani dan nelayan di desa Kubu, Sumber Agung, dan Bagan Asam untuk mendukung sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan dalam menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan:
Kemajuan
Kami telah bekerja sama dengan Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Palma milik pemerintah Indonesia untuk memperoleh bibit kelapa Bido dari Maluku, Indonesia Timur. Di Sumber Agung, masyarakat berhasil menyemai 190 benih yang menghasilkan 188 bibit. Bibit ini akan ditanam dan dipelihara selama 3–5 tahun ke depan, dan pada akhirnya akan menghasilkan benih yang dapat dijual kepada petani kelapa di seluruh Kalimantan Barat. Bibit tambahan akan ditanam di pusat pendidikan yang sedang dikembangkan untuk menunjukkan model pengelolaan terpadu, sehingga Sumber Agung dapat menjadi pusat utama penyedia bibit kelapa Bido di Kalimantan Barat. Usaha ini akan dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa, dan seluruh pendapatan akan menjadi Pendapatan Asli Desa yang dikelola secara kolektif.
Di desa pesisir Kubu, telah disusun rencana pengadaan 17.360 bibit kelapa yang terdiri dari kelapa genjah, kelapa Bido, dan kelapa tinggi tradisional untuk kegiatan peremajaan dan penanaman baru di lahan desa yang terdegradasi seluas 124 hektare. Sebanyak 111 petani kelapa akan terlibat, masing-masing bertanggung jawab atas sejumlah pohon dalam sistem pertanian kolektif.
Saat ini, program ini sedang diuji coba di desa-desa di luar Koridor Keanekaragaman Hayati Mendawak, dan akan diperluas ke dalam kawasan koridor tersebut pada tahun 2026 dan 2027.










