Memahami Lanskap Mendawak

Menjelajahi desa-desa, habitat, dan pola penggunaan lahan yang membentuk lanskap penting ini

Dinamika Lanskap Mendawak

Koridor Keanekaragaman Hayati Mendawak merupakan bagian dari lanskap Mendawak. Mendawak tidak memiliki batas wilayah yang ditetapkan secara tegas dan dalam beberapa konteks kerap dikelompokkan bersama lanskap Palung di bagian selatan atau Pulau Karimata yang terletak di lepas pantai Kabupaten Kubu Raya. Untuk mendukung penerapan strategi pengelolaan lanskap yang berfokus pada Mendawak, Sangga Bumi Lestari pada umumnya memandang Palung dan Karimata sebagai lanskap yang terpisah. Dalam kerangka ini, Mendawak dipahami sebagai kawasan seluas 934.558 hektare, yang membentang dari Hutan Lindung Mendawak di bagian utara hingga wilayah tepat di sebelah utara Taman Nasional Gunung Palung di bagian selatan. Batas timur kawasan ini mengikuti batas timur konsesi pulp dan kertas PT Mayawana Persada, sedangkan batas baratnya adalah garis pantai Kabupaten Kubu Raya.

Desa

Kawasan Mendawak mencakup 69 desa yang dihuni oleh sekitar 164.950 jiwa. Komposisi penduduknya didominasi oleh masyarakat Dayak dan Melayu, dengan kelompok penduduk lain yang lebih kecil, antara lain Bugis, Jawa, Madura, dan Tionghoa. Sebagian besar penduduk Mendawak memeluk agama Kristen dan Islam.

Tipe Habitat

Secara umum, lanskap Mendawak terbagi ke dalam sembilan tipe habitat utama, yaitu:

  • Rawa gambut, dengan luas sekitar 400.708 hektare
  • Hutan Dipterokarpa campuran atau perbukitan di atas batuan beku (granit), seluas 4.515 hektare
  • Hutan Dipterokarpa campuran atau perbukitan di atas batuan metamorf, seluas 269.275 hektare
  • Hutan Dipterokarpa campuran atau perbukitan di atas batuan vulkanik, seluas 1.651 hektare
  • Ekosistem riparian (tepi sungai), dengan luas 88.844 hektare
  • Hutan mangrove, seluas 147.851 hektare
  • Hutan submontana pada substrat lainnya, seluas 644 hektare
  • Hutan dataran rendah di atas batu pasir, seluas 1.341 hektare
  • Badan air, dengan luas 19.727 hektare

Kategori Lahan

125.285 hektare dikategorikan sebagai Hutan Lindung, yaitu kawasan yang wajib dilindungi untuk menjalankan fungsi konservasi, termasuk perlindungan sistem penyangga kehidupan.
367.979 hektare merupakan Hutan Produksi, yang diperuntukkan bagi pemanfaatan hasil hutan seperti kayu, rotan, damar, serta hasil hutan bukan kayu lainnya. Konsesi pulp dan kertas pada umumnya berada di kawasan Hutan Produksi, dengan pola pengembangan yang melibatkan pembukaan vegetasi asli dan penanaman tanaman industri seperti akasia atau eukaliptus.
75.764 hektare dikategorikan sebagai Hutan Produksi Terbatas, yaitu kawasan dengan fungsi yang serupa dengan Hutan Produksi, namun dengan pembatasan tambahan, terutama untuk menjaga kestabilan lereng dan mencegah degradasi lingkungan.
13.294 hektare diklasifikasikan sebagai Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi, yaitu kawasan yang secara tata ruang dapat dialihkan peruntukannya untuk kegiatan pembangunan di luar sektor kehutanan.

Penggunaan Lahan

Lanskap Mendawak mencakup 29 Hutan Desa (HD) dengan luas total 118.365 hektare, serta satu Hutan Tanaman Rakyat (HTR) seluas 700 hektare. Di dalam Kawasan Hutan, terdapat 13 perusahaan yang mengelola Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), yang sebagian besar diperuntukkan bagi pengembangan tanaman industri pulp dan kertas, serta dalam beberapa waktu terakhir juga diarahkan untuk proyek kredit karbon. Selain itu, terdapat 22 perusahaan yang memegang Izin Usaha Perkebunan (IUP), yang penggunaannya didominasi untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit. Kegiatan pertambangan juga menjadi komponen penting dalam pola penggunaan lahan di lanskap ini, khususnya pertambangan bauksit. Tercatat 18 perusahaan pertambangan (PT) telah terdaftar dan memiliki izin untuk beroperasi di kawasan Mendawak.

Satwa Liar

Mendawak merupakan salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Kalimantan. Lanskap yang tersusun atas mosaik hutan Dipterokarpa dataran rendah, hutan rawa gambut, dan ekosistem mangrove menyediakan habitat bagi sejumlah spesies paling terancam di Indonesia.

Namun demikian, data publik mengenai keberadaan dan sebaran spesies masih sangat terbatas, karena sebagian besar habitat berada di dalam wilayah konsesi industri. Oleh sebab itu, sebagian besar pengetahuan yang ada diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan, informasi dari masyarakat setempat, penyebutan spesies dalam komunikasi resmi perusahaan (seperti laporan tahunan, situs web, dan kajian High Carbon Stock), serta ekstrapolasi dari data yang dikumpulkan di Taman Nasional Gunung Palung.

Spesies kunci yang ditemukan di kawasan Mendawak antara lain:

Scroll to Top