Membangun Koridor Keanekaragaman Hayati lintas konsesi untuk menjamin masa depan orangutan Kalimantan Barat

Solusi Multipihak

Pendekatan

Bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sangga Bumi Lestari menginisiasi dan mengoordinasikan Kelompok Kerja Koridor. Melalui kelompok kerja ini, pemegang konsesi dan masyarakat dipertemukan untuk menyelaraskan strategi konservasi dan pembangunan di seluruh koridor, dengan fokus pada:

Mengidentifikasi dan melindungi habitat prioritas di dalam area konsesi
Menghubungkan habitat di dalam dan di luar konsesi melalui perjanjian pengelolaan bersama
Mendorong praktik pembangunan yang berpihak pada hutan dan ramah terhadap satwa liar
Mendukung upaya konservasi yang dipimpin oleh desa serta penghidupan berkelanjutan
Menyelaraskan peran perusahaan dan masyarakat, termasuk mekanisme pembiayaan
Tujuan Jangka Panjang

Mengamankan Koridor Keanekaragaman Hayati Mendawak seluas 99.875 hektare sebagai kawasan terhubung dengan berbagai fungsi pemanfaatan, yang mampu menopang salah satu populasi orangutan terbesar yang tersisa di luar kawasan lindung, sekaligus menetapkan model konservasi lintas konsesi yang dapat direplikasi di Indonesia.

Koridor Keanekaragaman Hayati Mendawak

Jelajahi koridor ini melalui dasbor interaktif yang mengintegrasikan data dari hutan lindung, lahan desa, dan konsesi industri—menampilkan bagaimana berbagai pemangku kepentingan membentuk satu lanskap yang saling terhubung.

Pemangku Kepentingan Koridor Keanekaragaman Hayati Mendawak

Koridor Keanekaragaman Hayati Mendawak dibentuk oleh beragam pemangku kepentingan yang lahan, konsesi, dan keputusan pengelolaannya secara kolektif menentukan masa depan bentang alam yang terfragmentasi ini. Membentang melintasi hutan lindung, wilayah desa, perkebunan kelapa sawit, serta konsesi pulp dan kertas, koridor ini menyatukan berbagai tipe penggunaan lahan ke dalam satu sistem yang saling terhubung.

Pemahaman mengenai siapa yang mengelola setiap bagian koridor—dan di mana lokasi kawasan-kawasan tersebut—merupakan kunci untuk menyelaraskan aksi konservasi, menjaga keberlanjutan populasi orangutan, serta menunjukkan bagaimana kolaborasi konservasi lintas konsesi dapat diterapkan secara nyata.

1. Hutan Lindung dan Hutan Desa


Hutan Lindung Sungai Paduan (6.788 hektare)

Merupakan kawasan konservasi inti di sisi barat koridor, yang ditetapkan dalam kerangka program perhutanan sosial (Hutan Desa) Indonesia.

Komponen hutan desa:
Nipah Kuning – 2.051 hektare (1.807 hektare berhutan)
Padu Banjar – 2.883 hektare (985 hektare berhutan)
Pemangkat – 1.245 hektare (1.071 hektare berhutan)
Pulau Kumbang – 609 hektare (486 hektare berhutan)
Signifikansi konservasi:
Didukung oleh Yayasan Palung, yang melaksanakan survei sarang orangutan tahunan serta program konservasi berbasis masyarakat
Perkiraan populasi: sekitar 63 individu orangutan
Kepadatan: sekitar 0,9 individu per kilometer persegi

2. Konsesi Kelapa Sawit


PT Jalin Vaneo (15.949 hektare)

Merupakan konsesi kelapa sawit yang membentuk simpul penghubung penting koridor di bagian barat daya dan timur laut Mendawak.

Sebelumnya mencakup 2.881 hektare kawasan hutan konservasi yang terbagi dalam dua blok:
1.505 hektare (barat daya), menghubungkan Hutan Lindung Sungai Paduan dengan rawa gambut di PT Mayawana Persada
1.376 hektare (timur laut), menghubungkan kawasan hutan antara PT Mayawana Persada dan PT Karya Makmur Langgeng
Pada tahun 2025, kawasan-kawasan tersebut dikeluarkan dari izin Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan
PT Jalin Vaneo menyatakan tetap berkomitmen untuk melindungi hutan-hutan tersebut
Keberadaan orangutan telah dikonfirmasi, namun belum tersedia estimasi populasi yang dipublikasikan

PT Karya Makmur Langgeng (Bumitama Agri Ltd) — 16.786 hektare
965 hektare kawasan hutan membentuk bagian paling selatan dari koridor
Terhubung dengan petak hutan di dalam konsesi PT Mayawana Persada, hanya dipisahkan oleh sabuk penyangga yang sempit
Hingga saat ini belum diketahui secara pasti apakah orangutan memanfaatkan kawasan hutan ini

3. Konsesi Pulp dan Kertas (Blok Inti Koridor)


PT Mayawana Persada (139.429 hektare)

Merupakan jantung ekologis dari koridor.

Sejak tahun 2016, sekitar 40.000 hektare hutan telah dibuka, dengan hampir separuhnya terjadi pada tahun 2023
Pengembangan lahan dihentikan pada Maret 2024 setelah adanya perintah pemerintah.
Sisa 35.624 hektare sabuk hutan di bagian tengah kini menjadi habitat orangutan terpenting di dalam koridor
Data orangutan (survei 2025):
Kepadatan: sekitar 0,65 individu per kilometer persegi
Perkiraan populasi: 124–190 individu orangutan

PT Asia Tani Persada (20.893 hektare)
5.459 hektare hutan merupakan bagian dari koridor
PHVA 2017 (Penilaian Kelangsungan Populasi dan Habitat Orangutan): perkiraan sekitar 150 individu orangutan
Survei tahun 2021: kepadatan 0,51 individu per kilometer persegi, dengan estimasi 27 individu orangutan

PT Daya Tani Kalbar (45.19 hektare)
10.069 hektare kawasan hutan masuk dalam wilayah koridor
Hasil survei tahun 2021:
Kepadatan: 0,34 individu per kilometer persegi
Perkiraan populasi: sekitar 25 individu orangutan

PT Mayangkara Tanaman Industri (Sumitomo Forestry) — 71.366 hektare
31.259 hektare hutan membentuk bagian timur utama dari koridor
Belum tersedia publikasi survei sarang orangutan
Survei kamera jebak telah mendokumentasikan keberadaan orangutan
Dalam wawancara media tahun 2020, perusahaan menyatakan terdapat sekitar 70 individu orangutan dan mengklaim populasi meningkat—angka ini belum diverifikasi secara independen

4. Hutan Tidak Dilindungi dan Wilayah Desa


Hutan Produksi Mata Pancing (5.623 hektare)

Merupakan petak hutan tidak dilindungi di luar konsesi, secara lokal dikenal sebagai Mata Pancing.

Wilayah desa yang termasuk:
Durian Sebatang – 525 hektare
Kampar Sebomban – 3.502 hektare
Labai Hilir – 1.057 hektare
Sekucing Kualan – 538 hektare
Hasil survei orangutan:
2015: kepadatan 2,55 individu per kilometer persegi
2021: kepadatan 1,11 individu per kilometer persegi, dengan estimasi sekitar 49 individu orangutan

Desa Bagan Asam (53.770 hektare)
13.247 hektare membentuk bagian utara dari koridor
Keberadaan orangutan telah diamati, namun survei sarang belum dilakukan
Kamera jebak telah dipasang oleh Sangga Bumi Lestari, dengan hasil analisis diharapkan pada Mei 2026

Area Potensi Perluasan Koridor

Dua desa di sebelah utara Bagan Asam menawarkan peluang untuk memperluas koridor ke arah utara:

Kampung Baru – sekitar 8.954 hektare hutan
Sansat – sekitar 7.548 hektare hutan

Saat ini belum tersedia informasi publik mengenai populasi orangutan di kawasan-kawasan tersebut.

Scroll to Top