April, 2026
Membangun Koridor Keanekaragaman Hayati lintas konsesi untuk menjamin masa depan orangutan Kalimantan Barat
Solusi Multipihak

Sangga Bumi Lestari telah mengidentifikasi koridor hutan seluas 99.875 hektare yang mencakup habitat orangutan terpenting di kawasan Mendawak—yang diperkirakan menjadi salah satu populasi orangutan terbesar di luar kawasan lindung.
Koridor ini melintasi dua konsesi kelapa sawit, empat konsesi pulp dan kertas, serta sembilan hutan desa. Meskipun terbagi menjadi tiga blok oleh aliran sungai, upaya pengamanan dan penyambungan kembali bentang alam ini akan melindungi populasi orangutan sekaligus menunjukkan model konservasi lintas konsesi yang dapat diperluas dan direplikasi.
Bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sangga Bumi Lestari menginisiasi dan mengoordinasikan Kelompok Kerja Koridor. Melalui kelompok kerja ini, pemegang konsesi dan masyarakat dipertemukan untuk menyelaraskan strategi konservasi dan pembangunan di seluruh koridor, dengan fokus pada:
Mengamankan Koridor Keanekaragaman Hayati Mendawak seluas 99.875 hektare sebagai kawasan terhubung dengan berbagai fungsi pemanfaatan, yang mampu menopang salah satu populasi orangutan terbesar yang tersisa di luar kawasan lindung, sekaligus menetapkan model konservasi lintas konsesi yang dapat direplikasi di Indonesia.
Koridor Keanekaragaman Hayati Mendawak
Jelajahi koridor ini melalui dasbor interaktif yang mengintegrasikan data dari hutan lindung, lahan desa, dan konsesi industri—menampilkan bagaimana berbagai pemangku kepentingan membentuk satu lanskap yang saling terhubung.
Pemangku Kepentingan Koridor Keanekaragaman Hayati Mendawak
Koridor Keanekaragaman Hayati Mendawak dibentuk oleh beragam pemangku kepentingan yang lahan, konsesi, dan keputusan pengelolaannya secara kolektif menentukan masa depan bentang alam yang terfragmentasi ini. Membentang melintasi hutan lindung, wilayah desa, perkebunan kelapa sawit, serta konsesi pulp dan kertas, koridor ini menyatukan berbagai tipe penggunaan lahan ke dalam satu sistem yang saling terhubung.
Pemahaman mengenai siapa yang mengelola setiap bagian koridor—dan di mana lokasi kawasan-kawasan tersebut—merupakan kunci untuk menyelaraskan aksi konservasi, menjaga keberlanjutan populasi orangutan, serta menunjukkan bagaimana kolaborasi konservasi lintas konsesi dapat diterapkan secara nyata.
1. Hutan Lindung dan Hutan Desa
Hutan Lindung Sungai Paduan (6.788 hektare)
Merupakan kawasan konservasi inti di sisi barat koridor, yang ditetapkan dalam kerangka program perhutanan sosial (Hutan Desa) Indonesia.
Komponen hutan desa:
Signifikansi konservasi:
2. Konsesi Kelapa Sawit
PT Jalin Vaneo (15.949 hektare)
Merupakan konsesi kelapa sawit yang membentuk simpul penghubung penting koridor di bagian barat daya dan timur laut Mendawak.
PT Karya Makmur Langgeng (Bumitama Agri Ltd) — 16.786 hektare
3. Konsesi Pulp dan Kertas (Blok Inti Koridor)
PT Mayawana Persada (139.429 hektare)
Merupakan jantung ekologis dari koridor.
Data orangutan (survei 2025):
PT Asia Tani Persada (20.893 hektare)
PT Daya Tani Kalbar (45.19 hektare)
PT Mayangkara Tanaman Industri (Sumitomo Forestry) — 71.366 hektare
4. Hutan Tidak Dilindungi dan Wilayah Desa
Hutan Produksi Mata Pancing (5.623 hektare)
Merupakan petak hutan tidak dilindungi di luar konsesi, secara lokal dikenal sebagai Mata Pancing.
Wilayah desa yang termasuk:
Hasil survei orangutan:
Desa Bagan Asam (53.770 hektare)
Area Potensi Perluasan Koridor
Dua desa di sebelah utara Bagan Asam menawarkan peluang untuk memperluas koridor ke arah utara:
Saat ini belum tersedia informasi publik mengenai populasi orangutan di kawasan-kawasan tersebut.








